Rekuren, kronis bilateral, atopi
kortikosteroid
Stenosis Pilorus e.c Hipertrofi Otot Pilorus
Posted: 11 Agustus 2010 in Stenosis Pilorus e.c Hipertrofi Otot PilorusA. PENDAHULUAN
Blefaritis adalah radang pada kelopak mata. Radang yang sering terjadi pada kelopak merupakan radang kelopak dan tepi kelopak. Radang bertukak atau tidak pada tepi kelopak bisanya melibatkan folikel dan kelenjar rambut. Blefaritis ditandai dengan pembentukan minyak berlebihan di dalam kelenjar di dekat kelopak mata yang merupakan lingkungan yang disukai oleh bakteri yang dalam keadaan normal ditemukan di kulit.
Blefaritis dapat disebabkan infeksi dan alergi yang biasanya berjalan kronis atau menahun. Blefaritis alergi dapat terjadi akibat debu, asap, bahan kimia, iritatif, dan bahan kosmetik. Infeksi kelopak dapat disebabkan kuman streptococcus alfa atau beta, pneumococcus, dan pseudomonas. Di kenal bentuk blefaritis skuamosa, blefaritis ulseratif, dan blefaritis angularis.
Gejala umum pada blefaritis adalah kelopak mata merah, bengkak, sakit, eksudat lengket dan epiforia. Blefaritis sering disertai dengan konjungtivitis dan keratitis.
Biasanya blefaritis sebelum diobati dibersihkan dengan garam fisiologik hangat, dan kemudian diberikan antibiotik yang sesuia. Penyulit blefaritis yang dapat timbul adalah konjungtivitis, keratitis, hordeolum, kalazoin, dan madarosis. Baca entri selengkapnya »
Pendahuluan
Moluskum kontagiosum klinisnya menimbulkan papul yang bulat berkubah berwarna merah dengan permukaan licin dengan ukuran 2-5 mm. Dapat soliter atau multiple tapi jarang sekali yang diameternya mencapai 1 cm, permukaan papul moluskum kontagiosum terdapat lekukan (delle) yang didalamnya berisi massa caseous.
Lesi pada awalnya padat, berwarna merah ketika matur akan berubah menjadi lunak, berwarna putih atau seperti warna mutiara bahkan dapat juga terjadi supurasi.
Lesi yang umum terjadi pada anak adalah pada daerah muka dan ekstremitas. Pada orang dewasa umumnya terletak di daerah perut bagian bawah sampai kemaluan karena disebarkan melalui hubungan seksual. Tapi papula juga dapat menyebar ke seluruh tubuh bahkan sampai ke lapisan mukosa seperti : mukosa bibir, lidah, dan pipi. Kecuali telapak tangan dan telapak kaki. (1) Baca entri selengkapnya »
| Pengertian | Ketidakmampuan mempertahankan nilai pH (keasaman), oksigen (O2), dan karbondioksida (CO2) darah arteri supaya tetap dalam batas normal.
Etiologi:
|
| Pengertian | Akumulasi cairan di paru-paru secara tiba-tiba akibat peninggi an tekanan intravascular |
| Diagnosis | Riwayat sesak nafas yang bertambah hebat dalam waktu singkat (jam atau hari) disertai gelisah, batuk dengan sputum berbusa kemerahan
Pemeriksaan fisik :
Elektrokardiografi : Bisa sinus takikardia dengan hipertrofi atrium kiri atau fibrilasi atrium, tergantung penyebab gagal jantung Gambaran infark, LVH atau aritmia bisa ditemukan
Laboratorium : Gas darah menunjukkan pO2 rendah, pCO2 mula-mula rendah dan kemudian hiperkapnia Enzim kardiospesifik meningkat jika penyebabnya infark miokard
Foto toraks : Opasifikasi hilus dan bagian basal paru kemudian makin ke arah apeks paru Kadang-kadang timbul efusi pleura
Ekokardiografi tergantung penyebab gagal jantung - Kelainan katup - Hipertrofi ventrikel (hipertensi) - Segmental wall motion abnormality (PJK) - Umumnya ditemukan dilatasi ventrikel kiri dan atrium kiri Baca entri selengkapnya » |
DISPNEA
Pasien dengan penyakit jantung paru umumnya memiliki gejala dispnea. Dispnea didefinisikan sebagai sensasi benapas yang tidak nyaman (an uncomfortable sensation of breathing) atau sensasi bernapas yang tidak nyaman dan disadari bahwa hal tersebut merupakan suatu kelainan (abnormally uncomfortable awareness of breathing). 1,2,3
Anamnesis yang lengkap sangat penting untuk memperoleh kepastian apakah pasien benar-benar menderita dispnea. Apabila dispnea telah ditegakkan, maka sangat penting untuk memperoleh data-data mengenai penyebab dispnea dan menilai gejala dan tanda lain yang berhubungan dengan dispnea. Pada beberapa situasi, pasien terkadang tampak kesulitan bernapas namun tidak mengeluhkan dispnea. Hal ini tampak pada keadaan hiperventilasi akibat asidosis metabolik dimana jarang ditemukan bersamaan dengan dispnea. Pada keadaan lain, pasien dengan pola napas yang normal dapat mengeluhkan dispnea. 1 Baca entri selengkapnya »
| Pengertian | Penyakit hati menahun yang difus ditandai dengan adanya nekrosis, pembentukan jaringan ikat disertai nodul |
| Diagnosis | Pemeriksaan fisik : stigmata sirosis ( palmar eritema, spider nevi) vena kolateral dinding perut, ikterus, edema pretibial, asites, splenomegali
Laboratorium: rasio albumin dan globulin terbalik Baca entri selengkapnya » |
| Pengertian | Pankreatitis akut yaitu reaksi peradangan pankreas yang akut |
| Diagnosis | Keadaan umum pasien seperti dispepsia sedang sampai berat, gelisah kadang disertai gangguan kesadaran
Demam, ikterus, gangguan hemodinamik, syok dan takikardia, bising usus menurun ( ileus paralitik) Penyakit penyerta yang meningkatkan risiko : batu empedu, trauma, tindakan bedah di abdomen, DM, hipertiroidisme, alkoholisme, ulkus peptikum, leptospirosis DHF Baca entri selengkapnya » |
Kejang Demam Kompleks dan Kejang Demam Sederhana
Posted: 11 Agustus 2010 in Kejang Demam Kompleks dan Kejang Demam SederhanaKejang demam merupakan bentuk kejang yang sering dijumpai dan terjadi pada 2 – 5% anak. Dalam 25 tahun terakhir ini diketahui bahwa kejang demam sebenarnya tidaklah menakutkan. Kejang demam tidak berhubungan dengan adanya kerusakan otak dan hanya sebagian kecil saja yang akan berkembang menjadi epilepsi.
Kejang demam berdasarkan definisi dari The International League Againts Epilepsy (Commision on Epidemiology and Prognosis, 1993) adalah kejang yang disebabkan kenaikan suhu tubuh lebih dari 38,4oC tanpa adanya infeksi susunan saraf pusat atau gangguan elektrolit akut pada anak berusia di atas 1 bulan tanpa riwayat kejang tanpa demam sebelumnya.
Kejang demam diklasifikasikan sebagai :
1. kejang demam kompleks bila bersifat fokal, berlangsung lama (>10 – 15 menit), atau multiple (> 1 kali serangan selama 24 jam demam).
2. kejang demam sederhana adalah kejang yang berlangsung satu kali, singkat , dan bersifat umum. Baca entri selengkapnya »
DEFINISI
Kehamilan abnormal di mana hampir seluruh vili korialisnya mengalami perubahan hidrofik.
ETIOLOGI
Belum diketahui pasti.
PATOGENESIS
Mola hidatodosa berkembang dari trofoblas ekstraembrionik. Dibagi menjadi:
- Mola hidatidosa komplet (klasik) → janin tidak ada.
- Mola hidatidosa inkomplet (parsial) → ada janin/ada bagian janin. Baca entri selengkapnya »
Definisi
Ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram.
- Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi (biasa menyebabkan abortus pada kehamilan sebelum usia 8 minggu)
- Kelainan kromosom (trisomi autosom dan monosomi X)
- Lingkungan sekitar tempat implantasi kurang sempurna
- Pengaruh teratogen (radiasi, virus, obat-obatan, tembakau, alkohol)
- Kelainan plasenta (endarteritis vili korialis karena hipertensi kronis)
- Faktor maternal (pneumonia, tifus, anemia berat, keracunan, toksoplasmosis)
- Kelainan traktus genitalia (inkompetensi serviks –> abortus trimester II, retroversi uteri, mioma uteri dan kelainan kongenital uterus) Baca entri selengkapnya »
| Contributed by: Residents and Faculty Baptist Health System Birmingham Alabama, Radiologist, Baptist Health System Hospitals Birmingham, Alabama, USA. |
| Patient: female |
| History: Young girl with severe abdominal pain. |
Images:
|
| Findings: Abdominal USG demonstrating concentric rings of hypoechoic and hyperechoic layers C/W donut or bull’s eye sign seen on transverse sections of SB. Longitudinal scan demonstrates the intusseptum invaginating into the intussuscipiens. Pylorus is normal. SB series confirms USG findings demonstrating coiled spring appearance of ileocolic intussusception. Baca entri selengkapnya » |
BATASAN
Anemia aplastik adalah suatu kelainan yang ditandai oleh pansitopenia pada darah tepi dan penurunan selularitas sumsum tulang.
PATOFISIOLOGI
1. Defek sel induk hematopoetik
2. Defek lingkungan mikro sumsum tulang
3. Proses imunologi Baca entri selengkapnya »
Klasifikasi Adenokarsinoma Endometrium
Posted: 11 Agustus 2010 in Klasifikasi Adenokarsinoma EndometriumKlasifikasi UICC (Union Internationale Contra le Cancer) untuk adenokarsinoma endometrium:
T – 1: Karsinoma masih terbatas di korpus.
T – 2: Karsinoma telah meluas sampai di serviks, tapi belum sampai keluar uterus.
T – 3: Karsinoma telah keluar dari uterus, termasuk penyebarannya ke vagina, namun masih tetap berada dalam panggul kecil.
T – 4: Karsinoma telah melibatkan mukosa rektum atau kandung kemih, dan atau telah meluas sampai di luar panggul kecil.
Posisi waters : sinus paranasalis
Posisi schuller : Schuller
Posisi Rheese : foramen optikum
Posisi eisler : Mandibula



